
Cara Saya Menilai Kartu Premium Sebelum Mengambilnya
Oleh Christopher Sonny · 5 September 2026
Setiap kali ada kartu premium baru, iklannya selalu menonjolkan hal yang sama: lounge, concierge, dan gambar kabin kelas bisnis. Yang jarang ditampilkan adalah angka yang menentukan kartu itu layak atau tidak.
Saya selalu menurunkannya ke satu tabel.
Tabelnya
Angka di bawah ini ilustrasi, bukan penawaran bank tertentu — isi sendiri dengan syarat kartu yang sedang Anda pertimbangkan.
| Komponen | Kartu A | Kartu B |
|---|---|---|
| Iuran tahunan | Rp 1.500.000 | Rp 4.000.000 |
| Rate | Rp 10.000 / mile | Rp 5.000 / mile |
| Miles per tahun (belanja Rp 15 jt/bln) | 18.000 | 36.000 |
| Nilai miles (@ Rp 200) | Rp 3.600.000 | Rp 7.200.000 |
| Net setelah iuran | Rp 2.100.000 | Rp 3.200.000 |
Kartu B menang — tapi hanya kalau belanja Anda benar-benar Rp 15 juta sebulan. Turunkan jadi Rp 5 juta, dan Kartu B langsung merugi sementara Kartu A masih positif tipis. Iuran besar menghukum belanja kecil dengan sangat cepat.
Kalau malas menghitung manual, saya sudah menyiapkan kalkulatornya di sini — termasuk berapa belanja minimum per bulan supaya iuran kartunya balik modal.

Tiga hal yang tidak masuk tabel
- Benefit yang benar-benar dipakai. Lounge bernilai nol kalau Anda terbang sekali setahun dari terminal yang loungenya tidak ikut program.
- Ketentuan yang bisa berubah. Rate dan program poin bisa didevaluasi tanpa pemberitahuan panjang. Jangan mengambil kartu untuk satu promo.
- Kebiasaan bayar. Ini yang paling menentukan.
Kartu kredit hanya menguntungkan kalau tagihannya lunas setiap bulan. Sekali Anda menyimpan saldo, bunganya menelan seluruh reward — dan tabel di atas jadi tidak relevan.
Cara membaca hasilnya
- Net negatif → lewati, seberapa pun bagus materi promosinya.
- Net positif tipis → ambil hanya kalau benefitnya memang Anda pakai.
- Net positif besar → periksa lagi asumsi belanjanya; biasanya terlalu optimis.
Kalau masih ragu, tanyakan saja ke asisten AI di situs ini dengan angka Anda sendiri.